CERPEN :)

Posted: December 12, 2010 in Uncategorized

DIANDRA

“Teng .. teng..” waktu  istirahat sekolah.

Dian tak mampu lagi meredam emosinya, setelah ia tahu siapa pelaku yang talah mengahancurkan reputasinya dihadapan guru. Dengan penuh rasa kesal Dian berjalan menuju kelasnya. Baru saja ia dipanggil Pak Totok guru fisika yang terkenal sangat galak disekolahnya.

“Dian, kamu kenapa?  tanya Gita, teman sebangku Dian . Namun, Dian sama sekali tidak menjawab pertanyaan Gita. Wajahnya bertambah muram, perasaannya kesal.

“Siapa lagi kalau bukan gara-gara Andra, ya kan Yaan? Rani, sahabat Dian yang tiba-tiba nimbrung. Dian menatap Rani tatapan marah.

“Andra itu keterlaluan! Gara-gara nyembunyiin buku PRku, aku jadi kena marah Pak Totok. Bayangin aja aku  selalu ngerjain PR dan sekarang aku harus nanggung malu gara-gara Andra yang nyembunyiin buku PRku, dan parahnya Pak Totok enggak percaya sama aku .” Dian melampiaskan kekesalan dengan memukul meja didepannya.

Andra adalah cowok yang paling sering mengganggu Dian di kelas, bahkan denan cara keji sekalipun. Andra selalu membuat Dian kesal, jengkel, dan benci padanya.

“Ya, sudahlah. Mungkin ini semua salah paham. Andra pasti….” Belum selesai Rani bicara, Andra sudah muncul didepan mata.

“Teman-teman! Lihat deh, Dian baru aja balik dari ruang guru gara-gara tidak mengarjakan PR! Kasihan sekali, pasti malu banget ya? Haha …” Andra tertawa terbahak-bahak.

“Heh, mana buku PR yang kamu sembunyiin?  Cepat kembalikan! Belum puas kamu lihat aku dimarahi Pak Totok? Dian berkata dengan nada tinggi, Andra hanya tersenyum kecut.

“Ambil saja dikolam belakang sekolah! Hahaha….!” Andra tertawa dan meninggalkan Dian yang penuh amarah. Dian berlari menuju halaman belakang sekolah, dengan perasaan jijik, malu, dan takut kalau kelihatan orang akhirnya Dian memberanikan diri untuk mencebur kekolam.  Akhirnya Dian mendapatkan buku PRnya, walaupun dengan keadaan tragis. Basah, kotor, dan tanpa sampul yang hilang entah kemana.

Hari berikutnya disekolah…..

“Anak-anak, adakah yang  tidak masuk hari ini?” guru piket yang sedang berkeliling bertanya kepada seluruh murid di kelas XI IPA 8, kelas Dian.

“Andra buuu!!” semua anak menjawab dengan kerasnya. Dian yang tadinya menunduk tidak menyadari bahwa Andra tidak masuk, tiba-tiba langsung mengangkat kepalanya.

“Hah? Andra tidak masuk sekolah hari ini?” Dian bertanya pada Gita.

“Heloooo? Kamu masih tidur? Ya jelas aja Andra tidak masuk, bangkunya saja kosong!” kata Gita. “Oh Tuhan, terima kasih. Hari ini Kau hilangkan sejenak Andra dari kehidupanku!” Dian berkata riang dalam hati. Tetapi jujur saja, kalau Andra tidak masuk , Dian justru merasa ada yang hilang dalam dirinya. Tidak ada lagi yang menjahilinya, tidak ada lagi orang yang membuatnya kesal. Dan justru itulah yang membuat Dian merasa kehilangan.

Jangan salah, baru sehari saja Andra tidak masuk sekolah, hampir semua anak disekolah membicarakannya. Bahkan gosip-gosip pun mulai marak. Apalagi setelah dihitung  satu minggu Andra tidak  masuk sekolah. Ada yang bilang Andra diculiklah, ada yang bilang Andra pindah sekolah lah, dan lain-lainnya. Saat pelajaran akan dimulai lagi, tiba-tiba ada suara dari speaker. Yah biasalah, Bapak Wakil Kepala Sekolah akan menyampaikan pengumuman.

“ Pagi hari ini kita patut berdoa sejanak atas meninggalnya salah satu teman kita, Andra Saputra. Diharapkan mengumpulkan sumbangan sukarela dan dikumpulkan pada ketua kelas yang nantinya akan diambil oleh perwakilan darI OSIS. Terima kasih.” Lalu suara Bapak Wakil Kepala Sekolah tidak terdengar lagi. Seisi sekolah heboh. Dan tiba-tiba Rani menghampiri Dian yang tengah tertunduk.

“Maaf yaa, Yan.  Sebetulnya sudah lama Andra menitipkan surat ini untukkmu. Tetapi setiap kali aku ingin menyampaikan surat ini untukmu, Andra justru menghalangi. Sampai akhirnya disela-sela nafas terakhirnya kemarin, dia menyuruhku utnuk segara memberikan surat ini padamu. Bacalah! Kau harus tahu semuanya. Andra menyayangimu.” Lalu Rani pergi dan berlalu. Dian menatap amplop yang diberikan Rani kepadanya. Dengan perlahan Dian surat itu.

Untuk sahabat yang selalu kubuat kesal…

Dian..

Mungkin saat kamu membaca surat ini, aku telah tiada. Sebetulnya sudah lama aku ingin mendekatkan diri kepadamu sebagai seorang teman. Karena aku pikir, kamu adalah orang yang unik, kepribadianmu yang berbeda dari yang lain membuat aku tertarik. Tetapi mungkin caraku salah, selalu membuatmu kesal, jengkel, dan marah.

Maaf .. maafkan aku.. aku selalu berfikir umurku tidak akan lama lagi, karena penyakit kanker    yang mengerogoti tubuhku selama satahun ini. Meskipun aku sudah berusaha kuat, aku tidak mampu menyagkal bahwa tubuhku lemah, ragaku ringkih. Hanya satu hal yang belum sempat aku sampaikan padamu. Aku sangat bangga mengenal sosok sepertimu. Orang yang kuat, tegar, dan juga pantang menyerah.

Dari orang yang selalu membuatmu kesal

Andra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s